Karya Tulis Merupakan Ekspresi Diri Penulisnya

Karya Tulis Merupakan Ekspresi Diri Penulisnya

Berdasarkan pendapat Ibu Rosi Rosida yang menyatakan bahwa “suatu karya tulis merupakan hasil dari proses bernalar penulisnya.  Jadi tidak salah menilai seseorang dari karya tulisnya, sehingga kita bisa menilai seseorang dari tulisannya”.

 

Saya setuju dengan pendapat tersebut, karena setiap pengarang atau penulis bebas mengekspresikan isi pikirannya di suatu karya tulis.  Karya tulis juga dapat menjadi tempat bagi pengarang atau penulis untuk mengkritik apa yang sedang terjadi saat ini.

 

Selain menjadi tempat pengarang atau penulis untuk mengkritik, karya tulis juga dapat digunakan untuk menceritakan suatu kejadian dimana pengarang atau penulis pernah mengalami kejadian itu atau merupakan kejadian orang lain yang diceritakan dalam karya tulis tersebut.

 

Setiap karya tulis mempunyai gaya bahasa tersendiri yang mencerminkan pribadi dari pengarang atau penulisnya.  Biasanya tergantung dengan kondisi perasaan (mood) pengarang atau penulisnya, inilah yang membedakan penulis yang satu dengan yang lainnya.  Salah satu bentuk karya tulis yaitu komik.

 

Kata komik berasal dari bahasa Inggris “comic” yang berarti segala sesuatu yang lucu serta menghibur.  Pada awalnya sebutan komik ditujukan untuk serangkaian gambar yang berurutan dan memiliki keterkaitan antara gambar yang satu dengan yang lainnya, terkadang dibantu dengan tulisan yang berfungsi untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan.  Secara bahasa, komik yang berasal dari bahasa Yunani adalah cerita bergambar berbentuk dua dimensi yang bercerita bermacam-macam hal bahkan hal yang dianggap mustahil untuk terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

 

Salah satu komik yang populer yaitu milik Aoyama Gosho.  Penulis terkenal asal Jepang dengan komiknya yang berjudul “Detective Conan”.  Dalam komik ini Aoyama Gosho (penulis) memilih detektif sebagai peran utamanya.  Dalam hal ini penulis menyukai hal-hal misteri khususnya kasus kriminal seperti pembunuhan dan penculikan.  Maka dibuatlah tokoh detektif muda cerdas serta berbakat (Shinichi Kudo) untuk memecahkan masalah tersebut.  Di dalam komik ini terdapat banyak trik-trik pembunuhan maupun penculikan yang tiap episodenya berbeda-beda.  Sebelum trik-trik tersebut di tulis dalam komiknya, Aoyama Gosho selalu melakukan percobaan terlebih dahulu untuk memastikan apakah trik-trik berhasil atau tidak.  Peran Shinichi Kudo ini merupakan cerminan dari pribadi Aoyama Gosho yang pintar dan berbakat.

 

Jadi menurut penulis pendapat yang dikemukakan oleh Ibu Rosi Rosida bahwa “suatu karya tulis merupakan hasil dari proses bernalar penulisnya.  Jadi tidak salah menilai seseorang dari karya tulisnya, sehingga kita bisa menilai seseorang dari tulisannya” adalah tepat seperti contoh seorang Aoyama Gosho dengan karya tulisnya yang berupa komik “Detective Conan”.

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s