Sinopsis Novel Keluarga Twit

Sinopsis Novel Keluarga Twit

 

Judul                           :  Keluarga Twit

Judul Asli                    :  The Twits

Penulis                         :  Roald Dahl

Penerbit                      :  PT.  Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit               :  2004

Cetakan                       :  Kedua

Jumlah Hal.                 :  104 halaman

Sinopsis                       :

Mr. Twit termasuk laki-laki yang mukanya sangat berambut.  Seluruh mukanya kecuali kening, mata, dan hitung ditutupi rambut lebat.  Mr. Twit merasa dengan banyaknya rambut ini dia jadi terlihat seperti orang bijak dan terhormat.  Padahal kenyataannya dia sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat itu. Sejak lahir sampai sekarang di umur 60 tahun, dia menjadi orang paling tulalit yang pernah ada.  Rambut di muka Mr. Twit tumbuh seperti paku-paku panjang yang mencuat lurus seperti bulu-bulu sikat rambut.  Dan dia tidak pernah mencucinya selama bertahun-tahun.  Bahkan saat makan Mr. Twit tidak mau repot-repot membuka mulutnya lebar-lebar.  Akibatnya selalu ada ratusan remah makanan dari sarapan, makan siang, dan makan malam yang dulu-dulu melekat di rambut-rambut di sekeliling mukanya.

Mrs. Twit tidak lebih baik dari suaminya.  Dia memang tidak memiliki muka yang penuh rambut, namun karena itu dia tidak dapat menyembunyikan sebagian kejelakannya yang menakutkan.  Mrs. Twit tidak terlahir jelek.  Dia memiliki wajah yang manis ketika masih muda.  Kejelekan Mrs. Twit berkembang dari tahun ke tahun seiring dengan bertambah tuanya dia.  Itu terjadi karena dia selalu memiliki pikiran jelek setiap hari.  Mrs. Twit selalu membawa tongkat berjalan yang digunakannya untuk memukul anjing, kucing dan anak-anak kecil.  Mrs. Twit juga memiliki mata kaca yang selalu melihat ke arah yang berlainan.

Mr. dan Mrs. Twit sering saling mengerjai dengan cara-cara yang mengerikan.  Suatu pagi Mrs. Twit mencopot mata kacanya dan menjatuhkannya di dalam gelas bir Mr. Twit ketika Mr. Twit sedang tidak melihat. Mr. Twit duduk di sana, minum bir perlahan-lahan.    “Kau sedang merencanakan sesuatu.  Setiap kau menjadi pendiam seperti itu, aku tahu pasti kau sedang menyusun rencana” kata Mrs. Twit. Mrs. Twit benar, Mr. Twit memang sedang memikirkan tipuan yang benar-benar jahat untuk istrinya.  Tiba-tiba saat Mr. Twit menyeruput tetesan bir yang terakhir, dia terlonjak melihat mata kaca Mrs. Twit yang tengah melotot padanya dari dasar gelas.  Mrs. Twitpun terkekeh-kekeh melihat kejadian itu.

Untuk membalas Mrs. Twit, Mr. Twit menaruh kodok di tempat tidur Mrs. Twit.  Saat Mrs. Twit menyadari bahwa ada sesuatu yang dingin dan berlendir merayap di kakinya, maka dia pun menjerit.

“Kenapa kau?” Mr. Twit bertanya.  “Tolong!” jerit Mrs. Twit bergerak ke sana kemari. “Ada sesuatu di tempat tidurku!”

“Kurasa itu Skillywiggler raksasa yang barusan kulihat di lantai.” Ujar Mr. Twit.

Pingsanlah Mrs. Twit.  Kemudian Mr. Twit beranjak dari tempat tidurnya mengambil seteko air dingin dan dituangkannya air itu ke muka istrinya untuk menyadarkannya.  Tepat ketika Mrs. Twit sadar, kodok itu baru saja melompat ke mukanya.  Mrs. Twit lompat dari tempat tidur, melesat menuruni tangga dan menghabiskan malam itu disofa.

Keesokan harinya, Mrs. Twit membalasnya dengan menaruh cacing-cacing panjang dan besar yang dicampurkan dalam spaghetti di piring suaminya untuk makan siang.  Cacing-cacing itu tidak terlihat karena semuanya tertutup saus tomat dan ditaburi keju.

Untuk membalas Mrs. Twit karena cacing-cacing di spaghettinya, Mr. Twit memikirkan secara cermat tipuan yang benar-benar jahat.  Suatu malam, Mr. Twit membawa tongkat jalan istrinya dan kursi tua istrinya ke tempat kerjanya di lantai bawah.  Di sana dia melekatkan sekeping kayu bundar tipis yang tidak lebih tebal dari uang logam ke bagian dasar tongkat dan kursi itu.  Keping kayu itu membuat tongkat dan kursi tersebut lebih panjang, tapi perbedaannya sangat kecil sehingga keesokan harinya Mrs. Twit tidak menyadari perubahan tersebut.  Hal itu dilakukan Mr. Twit terus-menerus setiap malam.  Hingga akhirnya panjang tongkat itu setinggi dengan tinggi bahu Mrs. Twit.  Mr. Twit membuat istrinya ketakutan dengan mengatakan bahwa istrinya telah mengalami penciutan.

“Apa yang akan terjadi?” ujar Mrs. Twit tercekat.

“Kepalamu akan menciut ke dalam lehermu, kemudian lehermu menciut ke dalam badanmu, lalu badanmu akan menciut ke dalam tungkai-tungkai kakimu, lalu tungkai-tungkai kakimu menciut ke dalam telapak-telapak kakimu, dan akhirnya tidak ada yang tersisa kecuali sepasang sepatu dan segumpal baju tua.”

Mrs. Twit tidak kuat mendengar itu, lalu Mr. Twit mengajukan saran supaya Mrs. Twit melakukan peregangan.  Dan Mrs. Twit menyetujuinya, kemudian Mr. Twit membawa istrinya ke luar rumah tempat dia telah menyiapkan segalanya untuk peregangan heboh itu.  Pergelangan kaki Mrs. Twit diikat ke cincin besi yang ditancapkan ke tanah.  Kemudian enam puluh balon diikatkan di bagian atas tubuh Mrs. Twit yang kemudian menarik tubuh Mrs. Twit ke atas dan itu dirasakan oleh Mrs. Twit.

Kemudian Mr. Twit mengambil sebilah pisau dari sakunya dan dengan sabetan secepat kilat dipotongnya tali-tali yang mengikat pergelangan kaki Mrs. Twit ke cincin besi.  Mrs. Twitpun melesat ke atas seperti roket.  Tapi tak ada yang dapat menyelamatkannya, dalam beberapa detik dia telah naik ke awan biru dan terus meninggi.  Namun Mrs. Twit tidaklah bodoh, dia menggigiti tali-tali yang mengikat balon-balon itu ke pergelangan tangan, leher dan rambut.  Ketika dia menggigiti dua puluh tali, dia berhenti meninggi sama sekali.  Dia menggigiti satu tali lagi dan sangat pelan di mulai melayang turun.

Mr. Twit yang merasa telah melihat istri buruk rupanya untuk terakhir kali, sedang duduk-duduk di taman merayakannya dengan minum segelas bir.  Diam-diam, Mrs. Twit melayang turun.  Ketika kira-kira sudah setinggi rumah di dekat Mr. Twit, dia berteriak sekuat tenaga, “Aku datang, belut ubanan! Lobak tua busuk! Orang-orangan sawah kotor!”.  Mr. Twit terlonjak, dan sebelum Mr. Twit sempat melarikan diri, balon rok dalam yang mengamuk itu jatuh tepat menimpa Mr. Twit, memukulinya dengan tongkat dan meremukkan seluruh tubuhnya.

Sekali seminggu, pada hari Rabu, keluarga Twit makan Pai Burung untuk makan malam.  Mr. Twit menangkap burung-burung dan Mrs. Twit memasaknya.  Sehari sebelum hari Pai Burung, Mr. Twit mengoleskan lem superlengket di permukaan semua cabang Pohon Mati Besar di halaman rumahnya dan kemudian pergi.  Seiring matahari terbenam, burung-burung akan beristirahat di pohon mati besar itu dan kaki-kaki mereka menempel dan tamatlah riwayat mereka.  Keesokan paginya Mr. Twit mengambil semua burung malang di pohon untuk hidangan makan malam Pai Burung di hari Rabu.

Pada suatu Selasa malam, empat anak lelaki kecil mengendap-endap ke dalam taman untuk melihat monyet.  Setelah itu mereka memanjat Pohon Mati Besar.  Keesokan paginya, Mr. Twit menemukan empat anak laki-laki dengan pantat celana panjang mereka menempel di cabang pohon.  Mr. Twit sangat marah karena tidak ada burung untuk Painya malam ini.  Kemudian dia menaiki tangga dan ingin menjadikan ke empat anak lelaki tersebut untuk dijadikan Pai Anak Lelaki.  Kemudian mereka berlompatan turun dari pohon dan lari pulang dengan pantat mereka yang telanjang berkilauan disinari matahari.

Di dekat Pohon Mati Besar itu terdapat kandang monyet yang diisi oleh satu keluarga.  Mereka adalah Muggle Wump dan istrinya dan dua anak kecil mereka.  Mr. Twit mempunyai impian bahwa suatu hari dia akan memiliki sendiri SIRKUS DAHSYAT MONYET JUNGKIR BALIK yang pertama di dunia.  Itu berarti para monyet harus melakukan segala hal dengan jungkir balik.

Muggle Wump dan keluarganya ingin sekali melarikan diri dari kurungan di taman Mr. Twit dan kembali ke hutan Afrika tempat mereka berasal.  Mereka sangat membenci Mr. dan Mrs. Twit karena membuat mereka sengsara dan kelakuan jahatnya terhadap burung-burung.  Mereka sering memperingatkan burung-burung agar tidak hinggap di Pohon Mati Besar.  Namun para burung-burung Inggris itu tidak mengerti bahasa mereka yang berasal dari Afrika.  Hingga suatu hari datang burung Roly-Poly dari Afrika, kemudian Muggle Wump meminta bantuan burung Roly-Poly untuk memberitahu burung-burung lain bahwa jangan hinggap di Pohon itu karena burung Roly-Poly dapat berbahasa Inggris.

Keesokan harinya Mr. Twit marah melihat keadaan bahwa tidak ada satupun burung di Pohon Mati Besar, tetapi burung-burung itu malah hinggap di sangkar monyet.  Tanpa menunggu seminggu, Mr. Twit mengoleskan lem superlengket di seluruh bagian atas sangkar monyet.  Kemudian burung Roly-Poly datang tapi dihentikan oleh teriakan Mugglw Wump yang bilang bahwa di sangkarnya telah dilapisi lem juga di Pohon Mati Besar.  Maka burung Roly-Poly menyampaikan hal ini ke semua burung-burung.

Keesokan paginya Mr. Twit keluar dengan membawa keranjang besarnya, tak ada satu burung pun yang duduk di kurungan monyet maupun di Pohon Mati Besar.  Semua burung bertengger senang di atap rumah Mr. Twit sedangkan para monyet di dalam sangkar.  Mereka semua terbahak-terbahak menertawakan Mr. Twit. Mr. Twit sangat marah hingga berniat membeli senapan untuk menembak para burung tersebut.  Dengan istrinya dia pergi membeli senapan tersebut.  Namun sebelumnya dia menyuruh para monyet jungkir balik dengan Muggle Wump di posisi paling bawah dan anak terkecilnya di posisi paling atas.

“Kini diamlah di situ hingga kami kembali!” Mr. Twit memerintah. “Jangan berani bergerak! Dan jangan hilang keseimbangan! Ketika kami kembali dua atau tiga jam mendatang, aku ingin melihat kalian semua dalam posisi yang benar-benar sama seperti sekarang! Mengerti?”.

Begitu Mr. dan Mrs. Twit menghilang di ujung jalan, para monyet kembali berdiri di atas kaki-kaki mereka. “Cepat, ambil kuncinya!” Muggle Wump meminta ke burung Roly-Poly yang tengah bertengger di atap rumah.  Lalu Roly-Poly memberikan kunci tersebut ke Muggle Wump.  Muggle Wump memasukkan dan memutar kunci tersebut.  Keempat monyet itu emlompat ke luar bersamaan.

Muggle Wump mempunyai rencana balas dendam untuk membuat kapok Mr. dan Mrs. Twit dengan membuat mereka jungkir balik.  Dia meminta keluarganya dan Roly-Poly membantunya.  Mereka mengeluarkan ember-ember berisi lem superlengket dan kuas cat yang ada di gudang kerja Mr. Twit yang biasa digunakannya untuk menangkap burung-burung.  Kemudian mereka masuk ke rumah Mr. Twit dengan kunci pintu depan yang selalu disembunyikan Mrs. Twit di bawah keset.  Masuklah merke dengan membawa ember-ember berisi lem lengket.

Mereka masuk ke ruang keluarga, tempat biasa Mr. dan Mrs. Twit memakan Pai Burung.  Muggle Wump memerintah keluarganya dan Roly-Poly melapisi seluruh langit-langit dengan lem perekat.  Dengan bantuan para burung, pekerjaan selesai dengan cepat.  Kemudian Muggle Wump meminta mereka semua menarik karpet besar bermotif merah dan emas yang ada di bawah perabotan dan ditempelkan di langit-langit.  Para burung dan monyet menganggapnya gila tapi akhirnya mereka semua menurutinya.  Dan seluruh langit-langit ruang keluarga itu langsung tertutup karpet warna merah dan emas.

Kemudian mereka mulai merekatnya perabotan-perabotan seperti meja di langit-langit.  Meletakkan meja besar jungkir balik di langit-langit bukanlah pekerjaan yang mudah, tapi mereka akhirnya berhasil melakukannya.  Monyet-monyet dengan dibantu burung-burung mengoleskan lem di tiap kaki kursi dan menempelkannya di langit-langit.  Mereka benar-benar bekerja sangat keras.  Yang terutama sangat sulit adalah menempelkan segalanya di langit-langit di tempatnya yang benar-benar tepat.  Tapi mereka akhirnya bisa menyelesaikan kerja keras itu.  Dan kemudian Roly-Poly berjaga di luar untuk memberitahu mereka jika nanti Mr. Mrs. Twit datang.

Mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan ketika burung Roly-Poly menukik masuk dan berteriak “Mereka datang! Mereka datang!”.  Dengan cepat burung-burung terbang kembali ke atap rumah.  Monyet-monyet terburu-buru masuk ke kurungan mereka.  Sedetik kemudian Mr. dan Mrs. Twit berjalan bergegas ke taman, masing-masing membawa senapan yang kelihatannya menakutkan.  Tepat ketika Mr. dan Mrs. Twit akan memasuki rumah, dua burung raven menukik rendah melintasi kepala mereke.  Masing-masing membawa kuas cat di cakarnya yang telah dilapisi lem lengket.  Ketika burung-burung raven itu melintas, mereka mengoleskan sejumput lem lengket di atas kepala MR. dan Mrs. Twit.  Mereka melakukannya dengan sangat halus, walaupun demikian suami-istri Twit itu tetap merasakannya.

Mr. dan Mrs. Twit mengira itu adalah kotoran burung dan berniat membersihkannya di wastafel setelah masuk ke rumah.  Mrs. Twit mengambil kunci dari balik keset (tempat Muggle Wump meletakannya kembali dengan hati-hati) dan masuklah mereka ke rumah.  Betapa kagetnya mereka setelah tiba di ruang keluarga.  Mereka berdiri di tengah ruangan, mendongak ke atas.  Seluruh perabotan, meja besar, kursi-kursi, segalanya menempel terbalik di langit-langit.  Lukisan-lukisan dipasang terbalik di dinding. Dan lantai yang mereka pijak benar-benar kosong.  Bahkan lantai itu telah dicat putih seperti langit-langit.

“Kita jungkir balik!” Mr. Twit terkesiap.  “Kita pasti jungkir balik.  Kita berpijak pada langit-langit dan melihat ke lantai di bawah!”

“Kita jungkir balik dan seluruh darah kini mengalir ke kepalaku!” jerit Mrs. Twit.  “Jika kita tidak melakukan sesuatu secepatnya, aku akan mati, aku tahu aku akan mati!”

“Aku tahu!” jerit Mr. Twit.  “Aku tahu apa yang akan kita lakukan! Kita akan berdiri dengan kepala kita, dengan begitu kita akan berdiri tegak!”

Karena itulah mereka berdiri di kepala mereka, dan tentu saja karena lem lengket yang tadi dioleskan oleh para burung maka kini mereka melekat.  Mereka terpaku, menempel, macet, bergeming di papan lantai.  Para burung dan monyetpun menyaksikan pemandangan tersebut.

Sore itu, Muggle Wump dan keluarganya pergi ke hutan besar di puncak bukit, dam di pohon yang terbesar mereka membangun rumah pohon yang cantik.  Semua burung, terutama yang besar membuat sarang mereka di sekeliling rumah pohon itu sehingga tidak ada yang dapat melihatnya dari bawah.  Dan pada musim dingin nanti, para monyet akan kembali ke Afrika bersama barung Roly-Poly.

Disisi lain, Mr. dan Mrs. Twit masih melekat jungkir balik di lantai ruang keluarga.  Mereka saling menyalahkan satu sama lain.  Berbagai cara mereka lakukan untuk terlepas dari lem tersebut tapi mereka tetap saja jungkir balik.  Dan karena kepala tidak diciptakan sebagai tempat berpijak.  Saat itulah Mr. dan Mrs. Twit mengalami kejutan terbesar dalam hidupnya.  Karena begitu berat beban yang harus ditanggung dari atas ke bawah, kepalanya mulai melesak ke dalam tubuhnya.  Dengan cukup cepat, kepalanya telah hilang sepenuhnya di balik lipatan-lipatan lemak lehernya yang lembek.  Mereka benar-benar telah mengalami penciutan.  Kepala mereka menciut ke dalam leher mereka.  Kemudian leher mereka muali menciut ke dalam tubuh mereka, lalu tubuh mereka mulai menciut ke dalam tungkai kaki mereka dan tungkai-tungkai kaki mereka mulai menciut ke dalam telapak kaki mereka.

Dan satu minggu kemudian, pada suatu panas yang indah, seseorang bernama Fred datang untuk membaca meteran gas.  Ketika tidak ada seorang pun membuka pintu, Fred mengintip ke dalam rumah, dan di sana dia melihat, di lantai ruang keluarga, dua gumpalan baju tua, dua pasang sepatu, dan sebuah tongkat jalan.  Tak ada lagi yang tersisa dari Mr. dan Mrs. Twit di dunia ini.  Dan semua orang, termasuk Fred berteriak “Horeeeeeee!”.

Kesimpulan                 :

Setiap apa yang kita lakukan akan di balas nantinya oleh Tuhan YME.  Seperti halnya Mr. Twit yang menjaili istrinya dengan mengatakan bahwa istrinya mengalami penciutan dan pada akhirnya dia dan istrinya mengalami penciutan yang sesungguhnya.  Hal ini diterima mereka karena perbuatan-perbuatan jahat mereka selama ini terhadap anak-anak, burung-burung, bahkan terhadap para monyet yang mereka siksa jungkir balik setiap hari.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s